Salam sukses dan mulia!. Sobat sekalian, Sidakangen sebenarnya adalah nama sebuah wilayah setingkat RW yang merupakan bagian dari Desa Kebanggan, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Propinsi Jawa Tengah. Warga setempat lebih senang menamakan dengan desa karena berharap wilayah Sidakangen akan terus maju dan berkembang. Penduduk Desa Sidakangen sejak dulu sudah banyak yang merantau ke luar Kabupaten Banyumas.

Ada yang merantau ke kota Bandung, kota Jakarta, Papua, Lampung, Surabaya, dan berbagai daerah lainnya di Indonesia. Namun dalam perkiraan kasar saya, Jakarta adalah kota yang paling diminati wong Sidakangen sebagai tempat mendulang rupiah. Kini Sidakangen tampak selangkah lebih maju, dengan berbagai aktivitas bisnis yang mulai giat dikembangkan para generasi mudanya. Ada yang merintis usaha toko, pembibitan tanaman bunga, peternakan ikan lele, pertanian, dan ada juga yang membangun usaha jasa kontraktor listrik.

Tapi terus terang saya sampaikan, bahwa saya rindu dengan kejayaan masa lalu. Saat dimana penduduk Desa Sidakangen berlomba-lomba menggarap sawah, kebun, mengolah usaha ternak, dan tentu saja di zaman dulu hampir setiap keluarga memiliki kolam ikan yang luas. Kini zaman telah berganti. Kekayaan bumi Sidakangen tampak sudah berkurang akibat pembangunan tempat hunian dan toko. Sehingga boleh dibilang hasil bumi Desa Sidakangen tak semelimpah zaman dulu.

Saya juga rindu dengan Simbah-Simbah penjual getuk, bakwan, ciwel, lontong, obang-abing, yang dulu berjejer rapi di pertigaan Desa Sidakangen. Saya ingat betul sekitar dua puluh lima tahun yang lalu, hampir tidak ada seorang warga yang kekurangan pangan. Dulu, saya sering dipanggil-panggil (saat masih duduk di bangku SD), untuk mau ikut sarapan atau makan siang di tempat kerabat atau tetangga. Kini, tradisi mengajak makan tersebut sudah tak terdengar lagi. Saya jadi bertanya-tanya? Benarkah Sidakangen sudah selangkah lebih maju? Secara fisik (infrastruktur) mungkin iya, tapi secara riil apakah semua penduduk sudah sejahtera?

Mudah-mudahan Desa Sidakangen bisa terus membenahi dirinya agar semua warga bisa hidup rukun dan sejahtera. Terhindar dari “kericuhan” sosial karena warganya yang adu hebat soal kekayaan dan menonjolkan gengsi. Jangan sampai ini terjadi pada para generasi mudanya. Sesukses apapun kita, masih kalah jauh dengan keindahan dan kejayaan masa lalu. Masih penak jamanku toh? Adem, ayem, tentrem, dan wareg sepanjang waktu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *